Kajian Landasan Pendidikan

ARTIKEL

1 Pelajar SMK Tewas Akibat Tawuran Pelajar di Bekasi

Jakarta – Tawuran antar pelajar yang terjadi di Bekasi, Jawa Barat, menelan korban. Satu orang tewas dan satu orang lainnya mengalami luka bacok.
Tawuran itu terjadi di Kelurahan Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, Sabtu (11/3) sekitar pukul 13.30 WIB. Edi Gilang Febriyanto (17) meninggal dunia dan Abigail alias Abi (16) luka bacok akibat tawuran itu.
Kasubag Humas Polres Metro Bekasi Kota AKP Erna Ruswing mengatakan kasus ini bermula ketika Abi yang merupakan siswa SMK Bina Insan Kamil Jatikramat pulang sekolah dan diajak seniornya bergabung. Mereka yang mengendarai sekitar 6 sepeda motor itu lalu bersama-sama menuju Jatibening.
“Setibanya di TKP ke-1 bertemu dengan rombongan dari sekolah SMK Abdi Karya Jatibening terjadi tawuran yang mengakibatkan korban 1 (Edi Gilang) mengalami luka pada bagian leher sebelah kanan akibat sabetan diduga clurit mengakibatkan korban meninggal,” kata Erna dalam keterangannya kepada detikcom.
Melihat jatuh korban, rombongan dari Sekolah Bina Insan Kamil kabur dengan mengendarai sepeda motor ke arah Jatikramat yang kemudian dikejar sampai ke Jalan Raya Kodau Jatimekar. Saat dikejar, Abi yang berboncengan dengan rekannya pun terjatuh.
“Saat itu (Abi) berboncengan dengan saksi Gilang namun saksi berhasil kabur,” ujarnya.
Tak berselang lama, dua orang pelaku yang tidak dikenal langsung menyabetkan clurit ke korban mengakibatkan korban luka di bagian pundak sebelah kiri dan luka sobek di bagian punggung belakang.
“Setelah korban terluka, pelaku mengejar teman korban yang lainnya sampai akhirnya korban ditolong oleh masyarakat selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Mas Mitra Jatimakmur Pondok Gede Bekasi Kota,” tuturnya.
Kasus ini ditangani oleh Polsek Jatiasih. Polisi masih melakukan penanganan lebih lanjut.

Teori

  1. Landasan Psikologi Pendidikan

Proses kegiatan Pendidikan melibatkan proses interaksi psiko-fisik dalam sosiokultural yang antropologis-filosofis-normatif. Artinya, bahwa Pendidikan adalah suatu kegiatan yang menyangkut interaksi kejiwaan antara pendidik dan peserta didik dalam suasana nilai-nilai budaya suatu masyarakat (sebagai lingkungan Pendidikan) yang didasarkan pada nilai-nilai manusia.

Ingat salah satu aspek tujuan Pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, artinya bukan hanya individua tau sekelompok orang saja yang dicerdaskan, tetapi adalah seluruh bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Untuk mencerdaskan bangsan tidak semudah membalikan tangan Karena dalam kenyataanya setiap orang memiliki kondisi maupun potensi yang berbeda beda. Perbedaan yang mudah dilihat dari aspek psikologis nya adalah kemampuan intelektual, afektifnya dan psko-motoriknya namun untuk mencerdaskan bukan hanya intelektual belaka tetapi seluruh aspek kepribadian Indonesia, yang meliputi kecerdasan intelektual (IQ = Intelegent Quotion), kecerdasan social (SI = Social Intelegent), Kecerdasan Spritual (SpI = Spiritual Intelegent), Kecerdasan Emosi (EI = Emotional Intelegent), dan masih banyak kecerdasa-kecerdasan lain dalam diri manusia.

Kemampuan intelektual adalah sebagai modal dasar insani yang paling tinggi, sehingga manusia dibedakan dengan makhluk lainnya Karena akalnya yang luar biasa. Dengan perhatian terhadap masalah intelektual manusia, kita dapat mempelajari dasar-dasar teori psikologi kognitif. Guru dan pendidik bukan hanya memperhatikan aspek intelektualnya saja, walaupun intelektual sangat penting dalam kehidupan manusia, tetapi kebutuhan-kebutuhan manusia dalam hidupnya sangat kompleks. A.H. Maslow dalam buku Individual and Society, mengkategorikan menjadi 5 tingkatan kebutuhan (Krech dkk. 1962; 76), sebagai berikut.

  1. Kebutuhan fisik, contoh: lapar, haus
  2. Kebutuhan keamanan, contoh: keamanan, aturan
  3. Kebutuhan memiliki dan rasa cinta, contoh: prestasi, keberhasilan, harga diri
  4. Kebutuhan penghargaan, contoh: prestasi, keberhasilan, harga diri
  5. Kebutuhan aktualisasi diri, contoh: kebutuhan untuk menyempurnakan diri

Selanjutnya tugas-tugas pokok perkembangan, Menurut Robert Havighurst, tugas perkembangan ialah tugas yang terdapat pada suatu tahap kehidupan sesorang , yang akan membawa individu kepada kebahagian dan keberhasilan dalam tugas -tugas pengembangan. Tahap-tahap pengembangan menurut Erickson, yang diadopsi oleh Sikun Pribadi (1984;156-159) sebagai berikut:

  1. The sense of trust (Kemampuan mempercayai), kira-kira 0-12 bulan kemampuan penghayatan yang dimulai saat manusia dilahirkan.
  2. The sense of authonomy (kemampuan berdiri sendiri) kira-kira umur 1,5 – 3 tahun . pada tahun ini anak menghadapi tugas untuk mempertegas kehadirannya sebagai manusia yang mempunyai kesadaran dan keamapuan sendiri serta berdiri sendiri walaupun masih membutukan bantuan orang lain.
  3. The sense of initiative (kemampuan berprakarsa) kira-kira umur 3,5-5,5 tahun pada umur ini menemukan kemampuan-kemampuan yang tersimpan dalam dirinya.seperti mengembangkan kemampuannya,banyak mencoba-mencoba , meniru orang lain mengembangakan daya fantasi,kreativitasnya,dan inisiatifnya.
  4. The sense of accomplishment (kemampuan menyelesaikan tugas) kira- kira sekitar umur 6-12 tahun . pada periode ini anak terhilat Nampak rajin dan aktif, karena ingin menyelesaikan tugas yang dirasakan oleh dirinya.
  5. The sense of identity (kemampuan untuk menyakini identitasnya) umur 12-18 tahun. Periode remaja ini dimana anak mencari identitasnya,yang dapat menjawab siapakah dia ,bagaimana sifat-sifat baiknya, dan hubungannya dengan orang lain.
  6. Tahap kedewasaan ad a tiga tahap dalam periode ini keakraban(intimacy), kemampuan mengurus (generativity) dan tahap keutuhan pribadi(integrity).

 

  1. Landasan Sosiologis-Antropologis Pendidikan

A. Individu, Masyarakat, dan Kebudayaan Terdapat empat unsur di daam masyarakat yaitu:

  1. Manusia (individu-individu) yang hidup bersama
  2. Melakukan interaksi sosial dalam waktu yang cukup lama
  3. Mereka mempunyai kesadaran sebagai suatu kesatuan
  4. Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.

Antara individu, masyarakat dan kebudayaannya tak dapat dipisahkan. Hal ini sebagaimana kita maklumi bahwa setiap individu hidup bermasyarakat dan berbudaya, adapun masyarakat itu sendiri terbentuk dari individu-individu. Masyarakat dan kebudayaan mempengaruhi individu, sebaliknya masyarakat dan kebudayaan dipengaruhi pula oleh individu-individu yang membangunnya.

Struktur Sosial, Status, dan Peranan. Dalam struktur sosial tersebut setiap individu mempunyai kedudukan (statu) dan peranan (role) tertentu.

Interaksi Sosial, Tindakan Sosial, Konformitas, Penyimpangan Tingkah Laku/Sosial, dan Kontrol Sosial. Dalam rangka memenuhi kebutuhan atau untuk mencapai tujuantujuannya,setiap individu maupun kelompok melakukan interaksi sosial,adapun dalam interaksi sosial tersebut mereka melakukan berbagai tindakan sosial, yaitu perilaku individu yang dilakukan dengan mempertimbangkan dan berorientasi kepada perilaku orang lain untuk mencapai tujuan tertentu.

B. Pendidikan: Sosialisasi dan Enkulturasi

Upaya Mempertahankan Kelangsungan Eksistensi Masyarakat dan Kebudayaan. Terhadap generasi mudanya masyarakat anatara lain melakukan apa yang di dalam sosiologi disebut sosialisasi (socialization), atau apa yang di dalam antropologi disebut enkulturasi (enculturation). Berbagai peranan harus dielajari oleh anak (individu anggota masyarakat) melalui proses sosialisasi; adapun mengenai kebudayaan perlu dielajarinya melalui enkulturasi.

Sosialisasi dan Enkulturasi. Efinisi sosialisasi menekankan kepada pengambilan peranan, sedangkan definisi enkulturasi menekankan kepada  perolehan kompetensi budaya.

Pendidikan. Pendidikan diuapayakan antara lain agar peserta didik mampu hidup bermasyarakat dan berbudaya.

C. Pendidikan sebagai Pranata Sosial

Pranata Sosial. Perilaku terpola  yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasarnya (basic needs).  Jenis Pranata Sosial. Terdapat berbagai pranata sosial antara lain: pranata ekonomi, pranata politik, pranata agama, pranata pendidikan, dsb.

Pranata pendidikan merupakan salah satu pranata sosial dalam rangka proses sosialisasi dan/atau enkulturasi untuk mengantarkan individu ke dalam kehidupan bernasyarakat dan berbudaya, serta untuk menjaga kelangsungan eksisitensi masyarakat dan kebudayaannya.

D. Pendidikan Informal, Formal, dan Nonformal

    a. Pendidikan Informal

Yaitu pendidikan yang berlangsung/terselenggara secara wajar atau secara alamiah di dalam lingkungan hidup sehari-hari.

        i. Pendidikan Informal dalam Keluarga

Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat di setiap tempat di mana pun.

Jenis atau bentuk keluarga. Berdasarkan keanggotaannya, keluarga dibedakan menjadi keluarga batih dan kelurga luas. Berdasarkan garis keturunannya yaitu: keluarga patrilinial, keluarga matrilineal dan keluarga bilateral. Berdasarkan pemegang kekuasaannya: keluarga patriarhat, keluarga matriarhat dan keluarga equalitarian. Berdasarkan bentuk perkawinannya: keluarga monologi, keluarga poligami dan keluarga poliandri. Berdasarkan status sosial ekonominya: keluarga golongan rendah, keluarga golongan menengah dan keluarga golongan tinggi. Berdasarkan keutuhannya: keluarga utuh, bercerai, dan keluarga pecah semu.

Fungsi keluarga. Anropolog bernama George Peter Murdock mengemukakan empat fungsi keluarga yang bersifat universal:

             1. Sebagai pranata yang membenarkan hubungan seksual antara pria dan wanita dewasa berdasarkan pernikahan

             2. Mengembangkan keturunan

             3. Melaksanakan pendidikan 4. Sebagai kesatuan ekonomi

        ii. Pendidikan Informal Dalam masyarakat

        Pendidikan informal dalam masyarakat antara  lain dapat berlangsung melalui adat kebiasaan, pergaulan anak sebaya, upacara adat, pergaulan di lingkungan kerja, permainan, pagelaran seni dan bahkan percakapan biasa sehari-hari.

    b. Pendidikan Formal (Sekolah)

Sekolah sebagai Pranata Sosial. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

Komponen Sekolah. Tiga komponen utama sekolah yang menjadi syarat agar sekolah dapat melaksanakan fungsi minimumnya yaitu peserta didik, guru dan kurikulim. Sekolah sebagai Pranata/Lembaga Pendidikan Formal. Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah merupakan kesatuan kegiatan-kegiatan menyelenggarakan pembelajaran yang dilakukan oleh para petugas khusus dengan cara-cara yang terencana dan teratur menurut tatanan nilai dan norma yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Formalitas sekolah merembes ke dalam Kurikulum dan Pembelajaran Formalitas sekolah berakar pada status para individu yang menjadi komponennya, serta nilai dan norma yang serba resmi.Formalitas tersebut merembus ke dalam kurikulum dan cara-cara pembelajaran

  1. Fungsi Pendidikan Sekolah:
    1. Fungsi trasmisi kebudayaan masyarakat
    2. Fungsi sosialisasi
    3. Fungsi integrasi sosial
    4. Fungsi Mengembangkan kepribadian individu/anak
    5. Fungsi mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan
    6. Fungsi inovasi
  2. Perbedaan Sosialisasi di Sekolah dan di dalam Keluarga:
    1. Kemandirian (independence)
    2. Prestasi (achievement)
    3. Universalisme (uiversalism)
    4. Specifity (spesifity)
    5. Pendidikan Nonformal

 

3. Manusia Dan Pendidikan

    1. Hakikat Manusia

     Manusia bukan hanya sebagai suatu anggota di dalam lingkungannya, tetapi juga bersifat individual. karena itu, ia adalah kesatuan yang tak dapat di bagi, mperbedaan dengan yang lainnya sehingga setiap manuasia bersifat unik. perbedaan ini berkenaan dengan postur tubuh, kemampuan berfikir, minat, hobi, cita-cita, dsb. setiap manusia bebas mengambil tindakan atas pilihan serta tanggung jawab nya sendiri (otonom) untuk menandaskan keberadaannya di dalam lingkungan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia adalah individu/pribadi, artinya manusia adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi, memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga bersifat unik, dan merupakan subjek yang otonom.

Sekalipun setiap manusia adalah individu/personel, tetapi ia tidak hidup sendirian, tak mungkin hidup sendirian, dan tidak mungkin hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan ia juga hidup dalam keterpautan dengan sesamanya. Dalam hidup bersama dengan sesamanya (bermasyarakat), setiap individu menempati kedudukan (status) tertentu mempunyai dunia dan tujuan hidupnya masing masin, namun demikian sekaligus ia pun mempunyai dunia bersama dan tujuan hidup bersama dengan sesamanya. Melalui hidup dengan sesamanyalah manusia akan dapat mengukuhkan ekstensinya.

 Ekstensi manusia memiliki dimensi moralitas. Manusia memiliki moralitas karena ia memiliki kata hati yang dapat membedakan mana yang baik dan yang jahat. Sebagai subjek yang otonom(memiliki kebebasan) manusia selalu dihadapkan pada suatu alternative tindakan/perbuatan yang harus dipilihnya.

   2. Pendidikan Sebagai Humanisasi

Manusia adalah mahkluk yang perlu dididik dan dapat dididik. Manusia akan dapat menjadi manusia hanya melalui Pendidikan. Implikasinya maka Pendidikan tiada lain adalah humanisasi (upaya memanusiakan manusia).

Sasaran Pendidikan. Konsep hakikat manusia sebagai kesatuan yang serba dimensi dan terintegrasi bahwa sasaran Pendidikan bukan aspek badaniahnya saja, bukan pula aspek kejiwaanya saja. Sasaran Pendidikan hakikatnya adalah manusia sebagai kesatuan yang terintegrasi. Jika tidak demikian, Pendidikan tidak akan dapat membatu kita demi mewujudkan (mengembangkan) manusia seutuhnya.

Tujuan dan Fungsi Pendidikan. Pendidikan diupayakan dengan berawal dari manusia apa adanya (aktualisasi) dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada padanya (potensilitas), dan diarahkan menuju terwujudnya manusia yang seharusnya dicita-citakan (idealitas)

Sifat/Karakteristik Pendidikan. Pendidikan diarahkan menuju terwujudnya manusia ideal, sebab itu Pendidikan bersifat normatif, Implikasinya, sesuatu tindakan dapat digolongkan kedalam upaya Pendidikan apabila tindakan itu di arahkan menuju terwujudnya manusia ideal. Selain itu, materi dan cara-cara pendidikannya pun perlu di pilih atas dasar asumsi tentang hakikat manusia dan tujuan Pendidikan yang diturunkan dari padanya. Apabila sebaliknya maka tindakan tersebut tidak dapat digolongkan sebagai upaya Pendidikan

Sebagai humanisasi, Pendidikan mengandung pengertian yang sangat luas. Karena itu, Pendidikan hendaknya tidak direduksi menjadi sebatas pengajaran saja. Pengajaran memang tergolong kedalam salah satu bentuk upaya bantuan yang di berikan kepada peserta didik, tetapi upaya ini terbatas hanya dalam rangka untuk menguasai dan mengembangkan pengetahuan semata. Pendidikan jangan direduksi menjadi sebatas latihan saja, sebab latihan diarahkan dalam rangka menguasai keterampilan saja. Pendidikan jangan pula direduksi menjadi hanya sebatas sosialisasi saja, atau untuk menghasilkan tenaga kerja saja, dst. Sebagai humanisasi Pendidikan seyogyanya meliputi berbagai bentuk kegiatan dalam upaya mengembangkan berbagai potensi manusia dalam konteks dimensi keberagaman, moralitas, individualitas, sosialitas, dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi. Sebab itu pula, Pendidikan adalah bagi siapapun, berlangsung dimanapun, melalui berbagai bentuk kegiatan (informal, formal, maupun non formal) dan kapanpun (sepanjang hayat). Ini berarti pula bahwa Pendidikan perlu dilaksanakan pada setiap tahap perkembangan manusia. Pentingnya Pendidikan bukan hanya pada masa kanak-kanak saja, melainkan sepanjang hayat.

 

Komentar

Tawuran adalah tindakan kekerasan yang dilakukan 2 kelompok atau lebih di masyarakat dalam bentuk perkelahian masal di tempat umum sehingga menimbulkan keributan dan rasa ketakutan pada warga yang berada di tempat kejadian. Tawuran dapat terjadi karena berbagai hal seperti v Budaya atau kebiasaan murid sekolah dari dulu, Saling ejek-mengejek, Ingin balas dendam karena ada yang diganggu, dll. Tawuran pelajar yang sudah menjadi budaya akan sulit diberantas karena siswa siswi yang bandel akan menjadi provokator tawuran dan memaksa teman-temannya serta adik kelas untuk ikut ambil bagian dalam tawuran antar pelajar. Bagi yang tidak ikut tawuran biasanya akan dimusuhi, dikerjai, dimaki-maki, diejek, difitnah, bahkan bisa diperlakukan kasar dari para siswa siswi yang nakal.

Dalam kasus diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi tawuran antara siswa SMK Bina Insan Kamil Jatikramat dengan siswa SMK Abdi Karya Jatibening di Kelurahan Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, Sabtu (11/3) pukul 13.30 WIB. Tawuran tersebut mengakibatkan 1 orang korbang yaitu Edi Gilang yang mengalami luka pada bagian leher sebelah kanan akibat sambetan diduga celurit mengakibatkan korban meninggal dunia.

Apabila di analisis lebih dalam, dari kasus diatas saya dapat dilihat banyak sudut pandang yang berbeda mulai dari korban, keluarga(orang tua, keponakan, dll), sekolah (civitas guru), rekan & lawan korban, serta masyarakat sekitar dekat tempat kejadian.

sebelum membahas dari berbagai sudut pandat, saya simpulkan kronologi kasus di atas. Tawuran itu terjadi di Kelurahan Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, Sabtu (11/3) sekitar pukul 13.30 WIB. kasus ini bermula ketika Abi yang merupakan siswa SMK Bina Insan Kamil Jatikramat pulang sekolah dan diajak seniornya bergabung. Mereka yang mengendarai sekitar 6 sepeda motor itu lalu bersama-sama menuju Jatibening. Setibanya di TKP ke-1 bertemu dengan rombongan dari sekolah SMK Abdi Karya Jatibening terjadi tawuran yang mengakibatkan korban 1 (Edi Gilang) mengalami luka pada bagian leher sebelah kanan akibat sabetan diduga clurit yang mengakibatkan korban meninggal, Melihat jatuh korban, rombongan dari Sekolah Bina Insan Kamil kabur dengan mengendarai sepeda motor ke arah Jatikramat yang kemudian dikejar sampai ke Jalan Raya Kodau Jatimekar. Saat dikejar, Abi yang berboncengan dengan rekannya pun terjatuh. (Saat itu (Abi) berboncengan dengan saksi Gilang namun saksi berhasil kabur). Tak berselang lama, dua orang pelaku yang tidak dikenal langsung menyabetkan clurit ke korban mengakibatkan korban luka di bagian pundak sebelah kiri dan luka sobek di bagian punggung belakang.
“Setelah korban terluka, pelaku mengejar teman korban yang lainnya sampai akhirnya korban ditolong oleh masyarakat selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Mas Mitra Jatimakmur Pondok Gede Bekasi Kota,” Kasus ini ditangani oleh Polsek Jatiasih. Polisi masih melakukan penanganan lebih lanjut.

Sungguh ironi sekali entah apa yang di fikirkan pelajar-pelajar pada kasus diatas itu tidaklah pantas pelajar melakukan seperti itu, pelajar itu seharusnya belajar dengan giat, ciptakan prestasi, taat tata tertib, menjaga nama baik sekolah, dll. Tapi sangat di sayangkan itu semua hanya harapan kosong saja. Pelajar ini malah melakukan hal yang buruk sampai mengakibat korban jiwa. Saya tekankan ini sungguh tidak wajar, di luar nalar seorang pelajar normal. Nyawa itu bukan tahu, segampang itu untuk menghancurkannya. Karna itu semua sudah terjadi maka siapa yang harus disalahkan ?? sulit untuk di cari tahu. turut prihatin atas meninggal nya Edi Gilang, semoga beliau amal ibadah nya di terima oleh Allah SWT, dan untuk keluarga yang ditinggalkan sabar, dan di kuatkan.
            Ditinjau dari kasus di atas korban merupakan siswa SMK Bina Insan Kamil Jatikramat berumur 17 tahun. Pada tahun inilah memasuki perkembangan The sense of identity (kemampuan untuk menyakini identitasnya) bukanhanya korban tetapi rekannya atau lawannya saat tawuran hal ini merujuk pada Landasan psikologi. Pada periode remaja ini dimana anak mencari identitasnya, yang dapat menjawab siapakah dia ,bagaimana sifat-sifat baiknya, dan hubungannya dengan orang lain, namun tidaklah mudah untuk mecari identitas diri karena masa inilah seseorang akan menemukan banyak hal baru, banyak rintangan baru, dll. Apabila dalam menghadapi itu sukses akan membawa stabilitas kepribadian anak menjadi lebih mantap, sebaliknya apabila gagal akan menimbulkan berbagai jenis masalah dan tidak sesuai dalam prilaku, inilah salah satu kemungkinan yang menjadi factor kasus tawuran di atas.

Bukan hanya factor itu saja dalam kasus tawuran di atas tak luput terjadi karena factor keluarga dan sekolah (bukan berarti keluarga sama sekolah ikut tawuran). Mungkin di dalam keluarganya dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirinya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya. Kemudian disekolah nya tidak / jarang merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, kurang / tidak adanya fasilitas yang memadai, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.

Memang sulit apabila sudah seperti itu, sebenarnya kasus tawuran itu bisa di atasi entah itu melalui keluarga atau sekolah meskipun hasilnya tidak sampai 100% terbukti.

  1. Memberikan pendidikan moral untuk anak . berikan pengetahuan agama di sekolah ataupun di rumah ingat harus lebih di fokuskan sejak dini kepada generasi muda sekarang agar dapat membentengi mereka dari hal yang negatif, khusunya dalam agama Islam , islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam kehidupan, semua permasalahn bisa diselesaikan secara terbuka tanpa adanya kekerasan.
  2. Menghadirkan seorang figur yang baik yang bisa dijadikan teladan bagi anak-anaknya conntohnya orang tua, guru sebaiknya memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya sehingga mereka akan meniru hal-hal yang baik pula.
  3. Memfasilitasi anak dengan baik dirumah maupun disekolah. Dalam artian terdapat lembaga/wadah untuk menyalurkan potensi dan bakat yang ada pada generasi muda untuk mengisi waktu luangnya ke arah yang bermanfaat sekaligus mendidik dan tentunya menjauhkan dari hal yang berbau anarkisme.
  4. Disekolah buat peraturan yang tegas.
  5. Memberikan Pendidikan anti tawuran, diseolah maupun di keluarga.
  6. Siswa di arahkan ke hal-hal positif dengan memberikan tanggung jawab
  7. Orang tua jangan lupa memberikan perhatian dengan semestinya untuk mencegah adanya miss communication.
  8. Jangan terlalu menekan dengan berbagai peraturan.

 

untuk lebih jelas nya bisa di lihat disini 1608254_Rivaldo 

 

References

JawaPos.com. (1983). 1 Pelajar SMK Tewas Akibat Tawuran. Diakses 30 Mei 2017, https://news.detik.com/berita/d-3444701/1-pelajar-smk-tewas-akibat-tawuran-pelajar-di-bekasi

Robandi, B. (2016). Landasan Pendidikan. Bandung.

Yusuf, Syamsu dan Nurihsan, Juntika. (2016). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung.